KAJIAN KEBIJAKAN HILIRISASI INDUSTRI PADA PERIZINAN KAWASAN BERIKAT

Authors

  • Desi Riana Prasetya Putri Directorate General of Customs and Excise
  • Ryan Faradina

DOI:

https://doi.org/10.31092/jpbc.v7i2.2199

Keywords:

hilirisasi industri, fasilitas kepabeanan, kawasan berikat, nilai tambah, regional value content

Abstract

Sejalan dengan kebijakan hilirisasi industri, DJBC yang memiliki fungsi industrial assistance dan trade facilitator mendukung kebijakan tersebut melalui pemberian fasilitas Kawasan Berikat. Izin Kawasan Berikat salah satunya diberikan kepada perusahaan yang melakukan kegiatan pengolahan barang untuk mendukung hilirisasi, sehingga fasilitas hanya dapat diberikan kepada kelompok industri antara dan industri hilir. Akan teteapi, regulasi yang mengatur mengenai Kawasan Berikat tidak memberikan definisi dan paramater yang objektif dan terukur atas suatu produk hilirisasi agar perusahaan dapat memperoleh fasilitas Kawasan Berikat. Hal tersebut berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan terkait pemberian perizinan yang dapat berakibat pada hilangnya potensi ekspor industri pengolahan dalam negeri. Dengan demikian, kajian ini bertujuan untuk merumuskan definisi dan parameter dari hilirisasi industri yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan pemberian fasilitas Kawasan Berikat yang terstandar dan seragam. Metodologi penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis konten dan studi literatur. Hasil kajian ini merekomendasikan agar dapat dilakukan penyesuaian regulasi terkait pemberian fasilitas Kawasan Berikat, khususnya mengenai parameter hilirisasi industri yang menjadi salah satu syarat agar perusahaan yang berorientasi ekspor dapat memperoleh izin Kawasan Berikat.

References

Armstrong, C. L., & Towery, N. A. (2022). Person or PC? A Comparison of Human and Computer Coding as Content Analyses Tools Evaluating Severe Weather. Online Journal of Communication and Media Technologies, 12(2), e202211.

Ashworth, R., Boyne, G., & Delbridge, R. (2009). Escape from the iron cage? Organizational change and isomorphic pressures in the public sector. Journal of public administration research and theory, 19(1), 165-187.

Badan Pusat Statistik. Nilai Ekspor Migas-Nonmigas. Diperoleh dari https://www.bps.go.id/indicator/8/1753/1/nilai-ekspor-migas-nonmigas.html

Baidarus, M., Anggraeni, C. D. N. A., & Mauliza, H. Z. (2018). Optimalisasi Peran BKPM Dalam Meningkatkan Investasi Sektor Infrastruktur Strategis Guna Mendorong Pemerataan Pembangunan. Jurnal BPPK: Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan, 11(1), 75-86.

Bantacut, T. (2013). Rural Economic and Food Security Development Based on Added Value Formation. Jurnal Pangan, 22(2), 181-196.

Bengtsson, M. (2016). How to plan and perform a qualitative study using content analysis. NursingPlus open, 2, 8-14.

Bolognesi, M., Pilgram, R., & van den Heerik, R. (2017). Reliability in content analysis: The case of semantic feature norms classification. Behavior Research Methods, 49, 1984-2001.

Bunea, A., Ibenskas, R., & s binderkrantz, A. (2017). Estimating interest groups’ policy positions through content analysis: A discussion of automated and human-coding text analysis techniques applied to studies of EU lobbying. European Political Science, 16, 337-353.

Coltrain, D., Barton, D., & Boland, M. (2000). Value added: opportunities and strategies. Arthur Capper Cooperative Center, Department of Agricultural Economics, Cooperative Extension Service, Kansas State University.

DiMaggio, P. J., & Powell, W. W. (1983). The iron cage revisited: Institutional isomorphism and collective rationality in organizational fields. American sociological review, 147-160.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. (2021). Peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perubahan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor PER-19/BC/2018 tentang Tata Laksana Kawasan Berikat.

Fauziah, Y. D., Rasmikayati, E., & Saefudin, B. R. (2021). ANALISIS NILAI TAMBAH PRODUK OLAHAN MANGGA. Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis. Juli, 7(2), 1045-1055.

Hadinata, S., & Marianti, M. M. (2020). Analisis Dampak Hilirisasi Industri Kakao di Indonesia. Jurnal Akuntansi, 12(1), 99-108.

Hall, D. M., & Steiner, R. (2020). Policy content analysis: Qualitative method for analyzing sub-national insect pollinator legislation. MethodsX, 7, 100787.

Haller, A., & Stolowy, H. (1998). Value added in financial accounting: a comparative study between Germany and France. Advances in international accounting, 11(1), 23-51.

Haudi, H., Wijoyo, H., & Cahyono, Y. (2020). Analysis of Most Influential Factors to Attract Foreign Direct Investment. Journal of Critical Reviews, 7(13).

Hayami, Y., Kawagoe, T., Morooka, Y., & Siregar, M. (1987). Agricultural marketing and processing in upland Java: A perspective from a Sunda Village.

Hsieh, H. F., & Shannon, S. E. (2005). Three approaches to qualitative content analysis. Qualitative health research, 15(9), 1277-1288.

Hurmekoski, E., Jonsson, R., Korhonen, J., Jänis, J., Mäkinen, M., Leskinen, P., & Hetemäki, L. (2018). Diversification of the forest industries: role of new wood-based products. Canadian Journal of Forest Research, 48(12), 1417-1432.

Irawan, B., & Soesilo, N. I. (2021). Dampak Kebijakan Hilirisasi Industri Kelapa Sawit terhadap Permintaan CPO pada Industri Hilir. Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 12(1), 29-43.

Janah, M. (2022). Analisis Kontribusi Ekspor Nonmigas Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur (Doctoral Dissertation, Upn" Veteran'jawa Timur).

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 229 Tahun 2017 tentang tentang Tata Cara Pengenaan Tarif Bea Masuk Atas Barang Impor Berdasarkan Perjanjian Atau Kesepakatan Internasional.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131 Tahun 2018 tentang Kawasan Berikat

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 77 Tahun 2014 tentang Ketentuan Asal Barang Indonesia.

Krishna, K. (2005). Understanding rules of origin.

Lambert, D. K., Lim, S. H., Tweeten, K. M., Leistritz, F. L., Wilson, W. W., McKee, G. J., ... & Saxowsky, D. M. (2006). Agricultural Value Added: Prospects for North Dakota (No. 1193-2016-94533).

Lind, P. (2005). Competitiveness through Increased Added Value: A Challenge for Developing Countries. Journal of Comparative International Management, 8(1), 42-57.

Meyer, J. W., & Rowan, B. (1977). Institutionalized organizations: Formal structure as myth and ceremony. American journal of sociology, 83(2), 340-363.

Ninghar, R. N. I. P. (2021). Pemanfaatan Fasilitas Kawasan Berikat Dalam Meningkatkan Investasi dan Mendorong Kinerja Ekspor di Indonesia (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Nurcahyo, M. A., & Purwana, A. S. (2021). Pengaruh Karakteristik Perusahaan Kawasan Berikat Terhadap Keuntungan Perusahaan (Study Kasus Pada Kppbc Xyz). Jurnal Perspektif Bea Dan Cukai, 5(1), 39-62.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131 Tahun 2018 tentang Kawasan Berikat,

WTO Agreement on Rules on Origin dan Free Trade Agreements (FTAs)

Published

2023-12-28

How to Cite

Riana Prasetya Putri, D. ., & Faradina, R. (2023). KAJIAN KEBIJAKAN HILIRISASI INDUSTRI PADA PERIZINAN KAWASAN BERIKAT. JURNAL PERSPEKTIF BEA DAN CUKAI, 7(2), 237–259. https://doi.org/10.31092/jpbc.v7i2.2199